Sejarah Berdirinya Masjid Kiai Gede Kotawaringin

Masjid Kiai Gede Kotawaringin adalah masjid tertua yang masih berdiri di provinsi Kalimantan Tengah. Masjid ini adalah peninggalan Kesultanan Kotawaringin. Kesultanan Kotawaringin sendiri adalah kekaisaran pertama dan satu-satunya yang didirikan di provinsi Kalimantan Tengah.

Nama Masjid Kiai Gede di Kotawaringin adalah masjid yang dahulunya berasal dari nama salah seorang pendeta dari pulau Jawa yang kemudian beliau ini secara sukarela untuk menyebarkan Islam yang kala itu masih sangat jarang di temui orang yang beragama islam khusus nya di daerah Kotawaringin, yang di kemudian hari beliau ini dijuluki Kiai Gede.

Sejarah Berdirinya Masjid Kiai Gede Kotawaringin

Masjid ini juga tergolong sangat tahan lama, karena masjid yang dibuat hanya dari kayu besi tidak hanya sangat tua serta masjid ini juga tidak mepunyai Kubah Masjid seperti halnya masjid pada umumnya,namun meskipun begitu masjid iniĀ  sampai saat ini masih berdiri kokoh dan tentu saja masih dapat berfungsi sebagai masjid hingga saat ini.

Lokasi Masjid Kiai Gede terletak di Desa Kotawaringin Hulu, Kec. Kotawaringin Lama, Kab. Kotawaringin Barat, Provinsi Kalimantan Tengah. Masjid Kiai Gede menghadap ke sungai antara kota Waringin Barat, bahkan sungai itu masih digunakan sebagai jalur transportasi utama.

Adapun bangunan masjid, itu dibangun dengan kayu yang dipilih dan fondasinya dibuat seperti rumah panggung, sehingga sangat tahan cuaca. Struktur arsitektur terdiri dari lapisan dan memiliki struktur yang mirip dengan arsitektur Masjid Agung Demak.

Sejarah Masjid Kiai Gede

Masjid Kiai Gede pertama kali dibangun pada tahun 1632 dan berusia lebih dari 300 tahun. Menurut salah satu versi dari kisah sejarah, Kiai Gede dikatakan sebagai sarjana Kesultanan Demak. Dia adalah seorang siswa Sunan Giri Gresik dan kemudian beremigrasi ke pulau Kalimantan untuk menyebarkan Islam di sana sekitar 1591 Masehi. Pada saat itu, Kesultanan Banjarmasin masih diperintah oleh Sultan Mustainubillah.

Pada kedatangan pertamanya, Kiai Gede disambut ke Kesultanan Banjar, yang sudah masuk Islam pada saat itu. Sultan Banjar kemudian menunjuk Kiai Gede untuk mempraktikkan agama Islam di Kotawaringin dan merintis Kesultanan baru. Bersama para pengikutnya, Kiai Gede tersandung di hutan belantara untuk melayani sebagai pemukiman. 

Pada awal rumen hanya sekitar 40 orang yang melakukannya, kemudian berkembang dan terus tumbuh sejauh ini telah menjadi salah satu perumahan penduduk paling maju.

Akhirnya, tikar rumen berhasil dieksekusi dan bangunan masjid dibangun sebagai gubuk dan tempat ibadah pada saat itu, dengan bahan baku yang sederhana.

Masjid Kiai Gede memang terbuat dari kayu secara keseluruhan. Kayunya adalah kayu pilihan Ulin yang memungkinkannya tahan ratusan tahun. Untuk mencegah pembusukan tiang, kayu tiang tidak ditanam, tetapi diletakkan di atas mangkuk yang juga terbuat dari kayu besi.

Bangunan Masjid Kiai Gede Kotawaringin memiliki ukuran persegi 15,5 x 15,5 meter, dengan tipe Joglo. Seluruh bangunan masjid dikelilingi oleh pagar kayu setinggi 1,25 meter. Bahkan, lantai dan dinding bangunan semuanya hanya menggunakan bahan baku kayu ulin. untuk posting yang mendukung atap, minimal 36 kolom telah ditempatkan.

Menurut salah satu takmir di Masjid Kiai Gede Kotawaringinmenjelaskan bahwa Masjid Kiai Gede Kotawaringin ini akan terlihat sangat mewah dan akan nampak elegan,ketika menjelang sore hari.

Selain itu, masjid ini juga memiliki mihrab dan mimbar yang juga terbuat dari kayu besi. Masjid ini juga memiliki drum yang sangat tua sebagai hadiah dari kerajaan Demak. Di bagian belakang masjid adalah bangunan tambahan (beranda) yang biasanya digunakan untuk jamaah haji (ma’mum masbuq).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *